Religi
Home / Religi / 7 Kisah Agung Isra’ Mi’raj: Perjalanan Langit Nabi Muhammad SAW Menerima Perintah Salat

7 Kisah Agung Isra’ Mi’raj: Perjalanan Langit Nabi Muhammad SAW Menerima Perintah Salat

Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Teluk Bintuni, Ustad Rahman Urbun, mengajak umat Islam menjadikan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 2026 sebagai momentum untuk memperkuat keimanan, meningkatkan kualitas ibadah, serta meneladani akhlak Rasulullah SAW di tengah tantangan kehidupan modern.

Ustad Rahman Urbun menjelaskan, kisah pertama Isra’ Mi’raj diawali dengan perjalanan Rasulullah SAW yang diperjalankan Allah SWT dari Masjidil Haram di Makkah menuju Masjidil Aqsa di Palestina hanya dalam satu malam. Peristiwa luar biasa ini menegaskan kekuasaan Allah SWT yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu, sekaligus memuliakan Masjidil Aqsa sebagai salah satu tempat suci umat Islam. Jumat (16/1/2026).

Kisah kedua, Rasulullah SAW melakukan perjalanan Isra’ dengan menaiki Buraq, makhluk ciptaan Allah SWT yang bergerak sangat cepat. Menurut Ustad Rahman, kisah ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang dianggap mustahil oleh manusia menjadi sangat mudah bagi Allah SWT apabila Dia menghendakinya.

Setibanya di Masjidil Aqsa, kisah ketiga ditandai dengan Rasulullah SAW menjadi imam salat bagi para nabi dan rasul terdahulu. “Peristiwa ini menegaskan kedudukan Nabi Muhammad SAW sebagai pemimpin para nabi dan penutup risalah kenabian,” ujar Ustad Rahman Urbun.

Selanjutnya, kisah keempat adalah peristiwa Mi’raj, ketika Rasulullah SAW dinaikkan ke tujuh lapis langit. Dalam perjalanan tersebut, Nabi Muhammad SAW bertemu dengan sejumlah nabi, di antaranya Nabi Adam AS, Nabi Isa AS, Nabi Musa AS, dan Nabi Ibrahim AS. Setiap pertemuan mengandung pesan keteladanan tentang perjuangan, kesabaran, dan keteguhan iman.

Dzikir dan Sholawat Menggema Diacara Satu Abad Nahdlatul Ulama Teluk Bintuni

Kisah kelima, Rasulullah SAW diperlihatkan berbagai gambaran balasan amal perbuatan manusia, baik pahala bagi orang-orang beriman maupun siksa bagi mereka yang melanggar ketentuan Allah SWT. Ustad Rahman menegaskan, peristiwa ini menjadi peringatan moral agar umat Islam senantiasa menjaga akhlak dan menjauhi perbuatan yang dilarang agama.

Puncak Isra’ Mi’raj menjadi kisah keenam, yakni diterimanya perintah salat secara langsung oleh Nabi Muhammad SAW. Awalnya, salat diwajibkan sebanyak 50 waktu, kemudian diringankan menjadi lima waktu atas saran Nabi Musa AS, namun tetap bernilai pahala 50 salat. “Ini menunjukkan besarnya rahmat dan kasih sayang Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.

Kisah ketujuh adalah pencapaian Rasulullah SAW di Sidratul Muntaha, tempat tertinggi yang tidak dapat dilampaui oleh makhluk mana pun. Menurut Ustad Rahman Urbun, tujuh rangkaian peristiwa Isra’ Mi’raj tersebut bukan sekadar kisah sejarah, melainkan sarana edukasi spiritual yang harus diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dan kesimpulan dari beberapa kisah diatas adalah, menunjukkan kasih sayang Allah SWT kepada hamba dan rasul-nya Muhammad Saw yang saat itu di timpa kesedihan yang luar biasa pada tahun ke 10 dari kenabian dan tahun itu disebut tahun kesedihan (‘Amul Huzni) karena wafatnya dua orang yang sangat amat berarti dalam kehidupan serta perjuangan dakwah nabi Muhammad Saw, dan mereka itu adalah, istri beliau Khadijah dan paman beliau Abu Thalib.
Isra mi’raj bagi nabi adalah salah satu bentuk perjalanan agung dalam rangka pemulihan dari kesedihan dan penguatan spiritual.

Ia berharap peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW tahun 2026 di Kabupaten Teluk Bintuni dapat menjadi momentum kebangkitan iman, penguatan ibadah, serta pembentukan akhlak mulia demi terwujudnya masyarakat yang religius, harmonis, dan bermartabat. (Wn).

Seleksi Pimpinan BAZNAS Teluk Bintuni Periode 2026–2031 Resmi Dimulai

Comment

Leave a Reply