Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id – Dikutip dari Pustaka milik Kantor Klasis GKI Kabupaten Teluk Bintuni. Sabtu (7/2/2027) media ini mencoba merangkum sejarah lahirnya GKI di wilayah Teluk Bintuni, tidak dapat dilepaskan dari perjalanan panjang pekabaran Injil yang penuh tantangan, pengorbanan, dan ketekunan para pelayan Tuhan serta tokoh-tokoh lokal pada awal abad ke-20.
Situasi dan kondisi di Negeri Sisar Matiti (Teluk Bintuni) pada masa itu sangat dipengaruhi oleh budaya, adat-istiadat, serta kepercayaan lama. Namun keadaan tersebut tidak menyurutkan tekad Souwona Silas Kawab yang berdayung dari Ido’or menuju Yakati untuk bertemu dengan iparnya, Marthen Kuryaido Kambunandiwan. Pertemuan itu membicarakan rencana perjalanan ke Bukit Kamadiri, Windesi, guna menemui Tuan Pandita Jan Adrian van Balen, dengan harapan agar dapat mengirimkan guru ke kampung Yakati dan Idoor.
Permintaan tersebut membuahkan hasil. Pada 10 Oktober 1910, Yakati menerima guru Andreas de Fretes, sementara Idoor menerima guru Piter Lewakabessy. Sehari kemudian, Selasa 11 Oktober 1910, guru Piter Lewakabessy diantar ke Idoor untuk memulai pelayanan.
Sebelumnya, perjalanan pekabaran Injil telah dilakukan oleh Van Balen dan Starrenburg bersama orang-orang Roon dan Windesi yang mengunjungi kampung-kampung di daerah Bintuni Atas (Tanah Genting) pada 31 Januari hingga 5 Februari 1910. Selanjutnya pada 9–11 Oktober 1910, Starrenburg mengantarkan guru Piter Lewakabessy dan Andreas de Fretes ke Yakati dan Idoor.
Dalam perjalanan menuju Fakfak, Starrenburg juga singgah di Babo dan Kaimana untuk melihat secara langsung apakah masyarakat di daerah yang mayoritas beragama Islam dan Roma Katolik menghendaki kehadiran guru dan zendeling (misionaris Protestan). Ternyata masyarakat setempat juga menginginkan pengajaran dari para zendeling, meskipun adanya agama keyakinan lain yang telah dianut oleh masyarakat setempat hampir empat abad sebelumnya.
Perjalanan Starrenburg pada Oktober 1910 dilanjutkan dengan pertemuan bersama Asisten Residen di Fakfak sebelum kembali ke Roon dan Windesi untuk melaporkan kepada Van Balen. Keterbatasan tenaga zendeling dan guru menjadi tantangan tersendiri. Pada 1912, untuk pertama kalinya ditempatkan zendeling Van Muylwijk setelah Pemerintah Belanda menetapkan bahwa zending Protestan melakukan kegiatan di sebelah barat Tanah Genting.
Penjelajahan ke wilayah Babo, Sarbey, serta sejumlah tempat di Babo, Kaimana, dan Fakfak pertama kali dilakukan oleh Starrenburg dan kemudian dilanjutkan oleh Van Muylwijk. Namun pada 1914, Van Muylwijk harus berpindah karena alasan kesehatan dan digantikan oleh zendeling J. Wetstein. Isterinya seorang diakonos yang kemudian mengelola poliklinik terkenal dan pada 1926 ditempatkan di Inanwatan.
Pada 1913 datang zendeling D.C.A. Bout, seorang pekerja yang bersemangat dan memiliki perhatian besar terhadap persoalan sosial, ekonomi, dan kesehatan. Ia bekerja di wilayah barat, terutama Kapaur (Semenanjung Onin), membuka sekolah di Air Besar (Taswa Kenantare), serta tinggal bersama masyarakat untuk mempelajari adat-istiadat dan kepercayaan mereka. Upaya membuka sekolah dan penginjilan di Kokas mendapat tantangan dari para raja setempat, sehingga baru terealisasi pada 1920.
Perang Dunia I (1914–1918) di Eropa turut mempengaruhi perkembangan pendidikan dan pekabaran Injil di Tanah Papua. Keterbatasan tenaga, transportasi, dan hubungan antarwilayah menjadi kendala serius. Wilayah pelayanan meliputi Bintuni, Babo, Fakfak, Kaimana, Inanwatan, Teminabuan, hingga Ayamaru, sehingga sangat dibutuhkan tambahan zendeling serta sarana transportasi berupa kapal layar motor untuk menunjang pelayanan di wilayah barat Tanah Nieuw Guinea.
Perjalanan panjang dan berat menyebabkan zendeling Van Muylwijk jatuh sakit, sementara Bout terserang malaria. Namun semangat pelayanan tetap menyala hingga 1915. Doa mereka terjawab dengan kedatangan zendeling J. Wetstein yang awalnya tinggal tiga bulan di Fakfak, namun kemudian melayani hingga sembilan tahun (1915–1924), sebelum dipindahkan ke Inanwatan.
Berkat lain datang pada November 1916 dengan tibanya kapal Jong Holland I di Fakfak. Kapal ini digunakan untuk menunjang pelayanan di Fakfak, Kaimana, Bintuni, Babo, Inanwatan, dan Teminabuan, serta memperluas pekabaran Injil ke Teluk Berau, Kapaur, Arguni, Pattipi hingga Bintuni.
Zendeling D.C.A. Bout sempat menangani seluruh pekerjaan di Nieuw Guinea Barat dengan sembilan jemaat, Idoor, Yakati, Kemon, Air Besar, Mbuni-Buni, Inanwatan, Tatua, Tanah Merah, dan Suga. Jumlah baptisan di Yakati mencapai 48 orang dan di Ido’or 59 orang, dengan 16 guru yang melayani, enam di antaranya berada di Inanwatan.
Dalam periode 1915–1923, pekerjaan pelayanan diatur oleh zendeling J. Wetstein. Pada Juni 1923, tiga zendeling tiba di Mansinam, yakni I.S. Kijne yang ditugaskan sebagai kepala sekolah guru, serta Johannes Eygendaal dan Frits Slump. Mereka kemudian ditempatkan di wilayah pelayanan tersebut untuk menggantikan zendeling D.C.A. Bout yang sejak 1921 telah bertugas di Teluk Wondama.
Dalam Converensi Zending ke 26 di Bukit Aitumieri Miei Teluk Wondama yang berlangsung dari tanggal 26 Januari – 10 Februari 1926, hadir dalam Converensi tersebut Delegasi dari Babo Bintuni, Kaimana Kokas, Fakfak, Inanwatan dan Teminabuan yang diwakili oleh zendeling, J. Wetstein, Frits Slump dan Johannes Eygendaal sehingga pada Penetapan Hasil Keputusan Konverensi Zending ke 26 tersebut pada tanggal, 10 Februari 1926, Resort Babo Bintuni di tetapkan sebagai salah satu Resort di Wilayah Selatan dan Barat Tanah Nieuw Guinea dan Pdt. Johannes Eygendaal ditetapkan juga sebagai Ketua Resort Babo Bintuni yang pertama.
Sumber : (Pustaka Kantor Klasis GKI Teluk Bintuni)







Comment