Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id – Mentari pagi menyinari pelataran rumah sederhana di Kampung Waraitama SP 1, Distrik Manimeri, Kabupaten Teluk Bintuni. Di halaman itu, ratusan helai selada hijau tumbuh segar berbaris rapi dalam instalasi hidroponik. Di balik kesejukan tanaman-tanaman tersebut, terdapat suami istri yang memilih tetap berkarya di masa purna tugas.
Adalah Hamis Silaratubun bersama sang istri, Dina Rumayomi, yang menjadikan masa pensiun bukan sebagai titik henti, melainkan awal perjalanan baru yang penuh makna. Dengan tangan yang telaten dan hati yang sabar, keduanya mengembangkan budidaya selada sistem hidroponik di kediaman mereka.
Di usia yang identik dengan waktu beristirahat, Hamis justru memaknai pensiun sebagai kesempatan untuk lebih dekat dengan alam dan Sang Pencipta. Baginya, bercocok tanam bukan sekadar aktivitas pengisi waktu, tetapi juga wujud rasa syukur atas nikmat Allah SWT.
“Kami sudah purna tugas, jadi mencoba belajar pertanian. Ini juga bagian dari berkah Allah SWT. Awalnya budidaya biasa, lalu kami menambah sistem hidroponik untuk mengisi waktu di masa pensiun,” tuturnya lembut saat ditemui wartawan, Rabu (25/2/2026).
Hamis melihat hidroponik sebagai jawaban atas tantangan geografis di Kabupaten Teluk Bintuni. Ia menuturkan, beberapa wilayah seperti Distrik Babo memiliki karakter tanah yang keras, sementara daerah Aranday dan Weriagar kerap mengalami pasang surut air yang memengaruhi pertanian konvensional.
“Kita lihat kultur wilayah di Teluk Bintuni, ada yang tanahnya keras, ada juga yang airnya pasang surut. Jadi hidroponik ini bisa menjadi solusi pertanian yang lebih efektif,” jelasnya.
Lebih dari sekadar usaha ekonomi, kebun hidroponik itu juga menjadi bagian dari ikhtiar pembinaan umat yang dijalankannya bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Sebagai pembina majelis taklim, Hamis aktif mengajak masyarakat untuk menghijaukan lingkungan dan memanfaatkan lahan secara bijak.
Ia meyakini, banyak ajaran dalam Al-Qur’an yang menuntun manusia untuk menjaga bumi dan menanam kebaikan, baik secara harfiah maupun maknawi.
Kini, sekitar 1.000 lubang tanam telah terpasang di kebun kecilnya. Pada tahap awal, mereka membangun 20 instalasi di tiga jalur tanam. Bibit selada didatangkan dari Jawa dan Sorong demi menjaga kualitas. Setelah mengikuti pelatihan teknik hidroponik, keyakinan Hamis semakin mantap untuk terus berkembang.
Dalam waktu sekitar satu bulan, selada-selada itu siap dipanen. Sekali panen, hasilnya berkisar antara 40 hingga 50 kilogram, bahkan pernah mencapai 70 kilogram dengan pendapatan sekitar Rp 7 juta rupiah.
“Pendapatannya cukup baik, bahkan ada kelebihan dibandingkan budidaya ikan yang biaya pakannya mahal. Di hidroponik ini kita hanya menggunakan media air dan tanah hitam dari sekam padi, pupuk kandang, serta nutrisi AB Mix, tanpa obat-obatan kimia,” ujarnya.
Ke depan, Hamis berencana mengembangkan sistem tanam di atas kolam untuk menghindari hama seperti belalang. Ia juga ingin menjadikan kebun hidroponiknya sebagai ruang belajar terbuka bagi siswa, orang tua, dan masyarakat—tentang pertanian modern yang sehat, ramah lingkungan, dan bernilai ekonomi.
Tak hanya itu, pengembangan hidroponik direncanakan merambah Kampung Masina dan mendukung kawasan Yakora yang telah dirintis sebagai kampung wisata. Hamis berharap, metode ini dapat menjadi solusi alternatif bagi wilayah Babo, Tomu, hingga Aranday.
Di sisi lain, Dina Rumayomi menjadi sosok penopang yang setia. Ia terlibat langsung sejak proses penyemaian hingga panen, merawat tiap bibit dengan kesabaran seorang ibu.
“Saya sangat mendukung kegiatan suami. Saya juga sudah terjun langsung dan bisa merasakan manfaatnya,” ungkap Dina dengan senyum bangga.
Di tengah hamparan selada yang menghijau, kisah Hamis dan Dina menjadi potret indah bahwa masa pensiun bukanlah akhir dari produktivitas. Justru dari halaman rumah sederhana di Manimeri, tumbuh harapan baru—bahwa dengan ketekunan, doa, dan cinta pada alam, setiap masa dapat menjadi ladang keberkahan.
Hamis pun berharap pemerintah daerah memberi perhatian lebih kepada para pensiunan yang ingin tetap berkarya, termasuk melalui dukungan terhadap program hidroponik sebagai solusi pertanian di berbagai distrik di Teluk Bintuni. (Wn).








Comment