Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id – Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Teluk Bintuni, Ustad Rahman Urbun, mengajak umat Islam untuk melakukan muhasabah diri serta memaksimalkan ibadah pada sisa hari-hari terakhir bulan Ramadhan yang penuh berkah.
Menurut Ustad Rahman Urbun, Ramadan merupakan bulan tarbiyah atau bulan pendidikan spiritual bagi umat Islam untuk meningkatkan keimanan, ketakwaan, serta memperbaiki kualitas diri di hadapan Allah SWT.
“Kita bersyukur kepada Allah SWT karena hampir menyelesaikan perjalanan di bulan tarbiyah yang penuh keberkahan ini. Di penghujung Ramadan, sudah sepatutnya kita melakukan muhasabah, mengevaluasi diri atas hari-hari yang telah kita lalui, sekaligus memaksimalkan sisa waktu dengan meningkatkan ibadah dan doa,” ujarnya, Selasa (17/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa Rasulullah SAW telah mengajarkan sebuah doa yang sangat dianjurkan untuk dibaca terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadan, yakni doa memohon pengampunan kepada Allah SWT.
“Doa yang diajarkan Nabi Muhammad SAW adalah: Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni yang artinya, ‘Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku’,” jelasnya.
Ustad Rahman menerangkan bahwa doa tersebut memiliki makna yang sangat dalam, bahkan lebih luas dari sekadar ucapan istighfar yang sering diucapkan umat Islam.
Ia menguraikan bahwa kata “istighfar” berasal dari kata “al-mighfar”, yakni alat pelindung yang digunakan pada masa peperangan sebagai perisai untuk melindungi diri dari serangan musuh.
“Ketika seseorang membaca istighfar, maknanya adalah memohon perlindungan kepada Allah SWT agar tidak dihukum atau diazab akibat dosa yang dilakukan. Namun secara makna, dosa itu masih ada, hanya saja Allah melindungi kita dari dampak buruknya,” terangnya.
Sementara itu, kata “al-‘afwu” memiliki makna yang lebih dalam, yakni memohon kepada Allah agar seluruh dosa dihapuskan tanpa bekas.
Ia menggambarkan makna tersebut dengan sebuah perumpamaan sederhana.
“Seperti seseorang yang berjalan di atas pasir dan meninggalkan bekas jejak kaki. Kemudian datang angin yang meniup pasir itu hingga bekasnya hilang sama sekali, seolah-olah tidak pernah ada jejak sebelumnya. Begitulah makna penghapusan dosa dalam kata “al-‘afwu” jelasnya.
Karena itu, ia mengimbau umat Islam untuk memperbanyak doa tersebut sambil meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadan guna meraih malam Lailatul Qadar.
“Lailatul Qadar adalah malam yang sangat agung. Nilai ibadah pada malam itu lebih baik dari seribu bulan atau setara dengan sekitar 83 tahun usia manusia. Oleh karena itu, umat Islam dianjurkan memperbanyak ibadah, doa, dan istighfar pada malam-malam terakhir Ramadan,” katanya.
Lebih lanjut, Ustad Rahman menambahkan bahwa orang yang mendapatkan pengampunan Allah SWT selama Ramadan akan keluar dari bulan suci tersebut dalam keadaan suci seperti bayi yang baru dilahirkan.
“Itulah makna dari Idul Fitri, yaitu kembali kepada fitrah atau kesucian setelah menjalani perjalanan spiritual selama sebulan penuh di bulan Ramadan,” ungkapnya.
Selain memperbanyak ibadah, ia juga mengingatkan umat Islam agar tidak melupakan kewajiban menunaikan zakat fitrah sebagai bagian dari rukun Islam yang memiliki dimensi sosial.
“Zakat fitrah adalah bentuk kepedulian dan solidaritas sosial kepada saudara-saudara kita yang membutuhkan, sehingga kebahagiaan Idul Fitri dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat,” katanya.
Di akhir pesannya, Ketua MUI Teluk Bintuni itu menyampaikan ucapan selamat menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kepada seluruh umat Islam.
“Atas nama pribadi dan keluarga, kami mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri 1447 Hijriah. Mohon maaf lahir dan batin. Semoga Allah SWT merahmati kita semua, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita sebagai hamba-hamba yang bertakwa sebagaimana janji Allah SWT dalam Al-Qur’an Surah Al-Baqarah ayat 183,” pungkasnya. (Wn).









Comment