Religi
Home / Religi / Semarak 100 Tahun GKI Teluk Bintuni, Lomba Papeda dan Bunga Liturgis Angkat Nilai Iman dan Budaya

Semarak 100 Tahun GKI Teluk Bintuni, Lomba Papeda dan Bunga Liturgis Angkat Nilai Iman dan Budaya

Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id – Perayaan satu abad Klasis GKI Teluk Bintuni berlangsung semarak melalui Lomba Masak Papeda dan Ikan Kuah Kuning serta Lomba Merangkai Bunga Liturgis (Bunga Hidup) yang digelar di halaman Kantor Klasis GKI Teluk Bintuni, Sabtu (07/02/2026).

Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian HUT ke-100 tersebut secara resmi dibuka oleh Sekretaris Klasis GKI Teluk Bintuni, Pdt. Yohanis Lanta, S.Si. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa perayaan satu abad bukan hanya momentum historis, tetapi juga ruang untuk memperkuat kebersamaan jemaat melalui kegiatan yang membangun iman dan melestarikan budaya lokal.

Menurutnya, lomba memasak papeda dan ikan kuah kuning tidak sekadar ajang kompetisi, melainkan sarana mengasah keterampilan serta menumbuhkan talenta yang dapat menunjang kehidupan keluarga. Ia menyebut, keterampilan yang dimiliki kaum ibu dan jemaat memiliki nilai ekonomi sekaligus mempererat keharmonisan rumah tangga.

Sementara itu, lomba merangkai bunga liturgis dinilai sebagai wujud pelayanan kreatif dalam mendukung kekhidmatan ibadah. Pdt. Yohanis menekankan bahwa bunga hidup yang dirangkai bukan hanya hiasan altar, tetapi simbol persembahan yang hidup kepada Tuhan serta cerminan penghayatan iman jemaat.

Jejak Pelita Iman Hingga Lahirnya Resort Babo–Bintuni: Cikal Bakal GKI Teluk Bintuni

Panitia menghadirkan dewan juri yang kompeten di masing-masing kategori. Untuk lomba masak papeda dan ikan kuah kuning, penilaian dilakukan oleh Gustaf Manuputty, Ny. Jane Fimbay, dan Ny. Linda Manggaprow. Adapun lomba merangkai bunga liturgis dinilai oleh Ibu Anita Manuputty, Ibu Pdt. M.I. Malaganda, dan Ibu Julita Sengkai.

Panitia juga mengimbau seluruh pihak agar menjaga ketertiban selama perlombaan berlangsung dan tidak memberikan intervensi kepada peserta, sehingga kompetisi dapat berjalan objektif dan lancar.

Melalui kegiatan ini, semangat kebersamaan, pelestarian kuliner khas Papua, serta pendalaman makna pelayanan gerejawi berpadu dalam satu perayaan yang sarat nilai budaya dan spiritualitas. (Wn).

Comment

Leave a Reply