Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id — Kampung Waraitama, berbisik dalam keheningan, kini menyuguhkan pesona hijau yang menenangkan jiwa. Di sudut tenang Kampung Waraitama, Kabupaten Teluk Bintuni, terbentang sebuah kisah yang menghangatkan sanubari. Lahan yang dulu terlihat sepi dan terlelap, kini berubah rimbun dan mempesona. Ketimun merambat lembut di atas tanah, cabai rawit tumbuh tegap dan subur di sela-sela tanaman. Bukan sekadar ladang pertanian biasa. Ini adalah ladang iman. Tempat menabur harapan. Dan bukti nyata, bahwa setiap jengkal alam semesta menyimpan tanda-tanda kebesaran Allah SWT.
Abi Hamis Silaratubun, Pembina Yayasan Mumtaza An-Nur, bersama para santri dan santriwati PPQ Pengusaha Pencinta Quran, mengubah halaman rumah yang sederhana menjadi lahan yang penuh berkah. Beliau tak sekadar membimbing cara menanam dan merawat tanam. Lebih dalam lagi, beliau mengajarkan hati para santri untuk merenungi rahasia agung penciptaan, sekaligus memetik manfaat nyata dari setiap apa yang Allah tumbuhkan di bumi ini. Senin (2/11/2026).
“Dan suatu tanda (kebesaran Allah) bagi mereka adalah bumi yang mati (tandus). Kami hidupkan bumi itu dan Kami keluarkan darinya biji-bijian, maka dari (biji-bijian) itu mereka makan. Dan Kami jadikan padanya di bumi itu kebun-kebun kurma dan anggur dan Kami pancarkan padanya beberapa mata air, agar mereka dapat memakan buahnya, dan hasil usaha tangan mereka. Maka mengapa mereka tidak bersyukur?”— QS. Yasin: 33–35.
Abi Hamis Silaratubun, juga menjelaskan bumi yang kering dan mati pun, atas izin Allah, dapat kembali bernyawa. Dari tanah yang tampak tak berdaya, Dia memunculkan biji-bijian yang menjadi makanan kita. Allah menanamkan kebun-kebun, memancarkan mata air, dan menumbuhkan buah-buahan, bukan tanpa hikmah. Semua itu agar kita menikmati hasilnya, dan agar hati kita meluapkan syukur. Allah berfirman: ‘agar mereka dapat memakan buahnya, dan hasil usaha tangan mereka.
Inilah kuncinya, rezeki adalah pertemuan manis antara karunia Allah yang turun dari langit, dengan usaha tulus yang kita tanam di bumi. Allah menyediakan benih, tanah, dan hujan lalu kita berikhtiar menanam, menyiram, dan merawat.
Hasilnya bukan sekadar panen di ladang, tetapi panen keberkahan yang menyehatkan raga dan menenangkan jiwa. Maka bercocok tanam adalah syukur yang diwujudkan dalam tindakan: kita mengelola amanah Pencipta, menikmati hasilnya, dan membaginya kepada sesama.”
“Dan Dialah yang menurunkan hujan dari langit, lalu Kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan.”— QS. Al-An’am: 99
Allah menempatkan kita di muka bumi sebagai khalifah, bukan untuk merusak, melainkan untuk mengelola dengan kasih sayang dan tanggung jawab, sehingga setiap makhluk dapat menikmati kebaikan yang tercipta darinya.
“Dialah yang telah menjadikan bumi untuk kamu sebagai tempat menetap dan jalan-jalan di atasnya, supaya kamu mendapat petunjuk.” QS. Az-Zukhruf: 10.
Setiap biji yang kita tanam adalah amanah yang dititipkan Allah. Setiap tunas yang menjulang adalah pancaran rahmat-Nya. Rasulullah telah mengingatkan kita.
“Tidaklah seorang muslim menanam pohon atau menanam benih, lalu burung, manusia, atau binatang memakannya, kecuali itu akan menjadi sedekah baginya.” HR. Bukhari dan Muslim.
Menurut Abi Hamis Silaratubun, Menanam merupakan ibadah yang nyata. Merawat alam adalah jalan menuju ridha Ilahi. Cabai rawit yang terasa pedas mengingatkan kita pada keberanian memegang teguh kebenaran. Ketimun yang segar dan lembut mengajarkan kelembutan hati seorang hamba yang penuh iman. Dan ketika masa panen tiba, keberkahan itu terasa sungguh nyata.
Hasil panen langsung menyajikan kesegaran di meja makan para santri. Kebutuhan sayur harian terpenuhi dengan bersih dan sehat, tanpa harus mengeluarkan biaya belanja yang berlebih, sehingga keuangan dapat dialokasikan untuk kebutuhan pendidikan dan kebutuhan pokok lainnya.
Hasil panen yang berlebih dijual kepada warga sekitar dan pasar kampung. Pendapatan sederhana namun konsisten ini digunakan untuk memenuhi kebutuhan operasional pendidikan, membeli perlengkapan belajar para santri, serta meringankan beban kebutuhan dapur pondok. Langkah kecil, namun berarti besar bagi keberlangsungan kegiatan belajar mengajar.
Ikatan Kasih yang semakin erat. Sebagian hasil panen senantiasa dibagikan kepada warga yang membutuhkan. Kebajikan yang tumbuh dari kebun ini tak hanya memberi makan raga, tetapi juga mempererat persaudaraan di tengah kehangatan komunitas Kampung Waraitama.
“Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berlainan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman, dan pohon-pohon yang berdaun lebat dan yang tidak berdaun, dialiri oleh air yang sama dan Kami lebihkan sebagian atas sebagian dalam rasanya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar tanda-tanda bagi orang yang berakal.”— QS. Ar-Ra’d: 4.
Para santri tak sekadar belajar memupuk tanah dan menyiram tanaman. Mereka belajar kesabaran menunggu masa tumbuh. Belajar syukur di hadapan setiap helai daun yang menghijau. Dan memahami satu kebenaran agung, rezeki memang datang dari langit sebagai karunia Allah, namun harus dijemput dengan ketekunan tangan di bumi. Dari sepetak lahan yang tak luas, Allah menitipkan rezeki yang cukup, bahkan melimpah untuk dibagi.
“Sebaik-baik pekerjaan seseorang adalah yang dikerjakan dengan tekun, meskipun kecil.”— HR. Baihaqi.
Perkarangan yang dulu terlelap, kini bernapas hijau di bawah langit Waraitama. Namun yang jauh lebih berharga, hati para santri ikut tumbuh subur bersama tanaman itu.
Mereka memahami, bahwa mencintai alam adalah bagian tak terpisahkan dari iman. Dan menjaga bumi adalah cerminan syukur kepada Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Memberi Rezeki.
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”— QS. Ar-Rahman: 13
Semoga langkah kecil dari Waraitama ini menjadi cahaya yang menginspirasi. Bahwa dengan iman yang teguh di hati, dan tangan yang tak kenal lelah bekerja, kita mampu menghadirkan sepotong surga kecil di bumi yang Allah titipkan kepada kita, merawatnya dengan kasih, dan memetik keberkahannya untuk hari ini dan masa depan yang penuh harapan. (Wn).







Comment