Pendidikan
Home / Pendidikan / Wujud Dari Kemitraan Strategis, Anak Teluk Bintuni Kini Bisa Bersaing di Tingkat Nasional

Wujud Dari Kemitraan Strategis, Anak Teluk Bintuni Kini Bisa Bersaing di Tingkat Nasional

Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id – Di tengah tantangan akses transportasi dan keterbatasan jaringan yang kerap menjadi hambatan, semangat belajar anak-anak di Kabupaten Teluk Bintuni dan Fakfak justru tumbuh semakin kuat. Hal ini tak lepas dari kemitraan strategis antara tim Indonesia Mengajar bersama Dinas Pendidikan Kebudayaan Pemuda dan Olahraga Teluk Bintuni, yang kini memasuki tahun kedua pelaksanaannya, dan akan terus berlanjut hingga tahun 2028 mendatang.

Kolaborasi yang juga melibatkan Dinas Pendidikan setempat ini tidak hanya berfokus pada perbaikan fasilitas, tetapi juga membuka lebar kesempatan bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan mereka di tingkat nasional bahkan internasional.

“Kemitraan ini sudah terjalin cukup lama dan kami terus memperkuat kerja sama dengan pemerintah daerah agar kualitas pendidikan di wilayah pesisir dan pedalaman semakin baik,” ujar Nisa Puspianita, dari pihak Manajemen Tim Indonesia Mengajar, saat ditemui di Kantor Dinas Pendidikan Teluk Bintuni. Kamis (7/5/2026).

Setahun terakhir, jejak prestasi pun mulai terukir. Pada periode sebelumnya, dua siswa berhasil mewakili daerah dalam Olimpiade Genomik Nasional di Jakarta, berasal dari SD Inpres Kokas (Fakfak) dan SMA Negeri Saingga (Teluk Bintuni). Tahun ini, pencapaian itu semakin berlipat ganda. Berbagai ajang nasional yang diikuti secara daring berhasil dimenangkan oleh siswa-siswi binaan, baik dalam bidang sains, bahasa, maupun pengetahuan umum.

Mulai dari Olimpiade Gama, Olimpiade Hari Kartini, Olimpiade Sains Nasional dan Kedokteran, hingga Olimpiade olimnesia, nama sekolah-sekolah di Teluk Bintuni dan Fakfak kini mulai dikenal di kancah pendidikan nasional.

Selaras Visi Bupati dan Wabup, Dr.Henry Kapuangan : Kemitraan Ini Hadirkan Perubahan Nyata Bagi Anak Didik Teluk Bintuni

Untuk mewujudkan kemajuan ini, Indonesia Mengajar menjalankan tiga program andalan, pendampingan intensif melalui program BSSP yang menyasar sembilan sekolah dasar, penyelenggaraan Klinik Bahasa Inggris di lima distrik, serta pengembangan Rumah Pintar sebagai pusat belajar alternatif yang tersebar di kedua kabupaten.

Meski begitu, perjuangan belum berakhir. Tantangan terbesar masih terletak pada aksesibilitas. Saat libur panjang, banyak siswa yang kembali ke kampung halaman dan kesulitan untuk kembali bersekolah. Kondisi yang sama juga dirasakan oleh para guru, sebagian besar warga lokal yang menghadapi kendala geografis yang serupa. Belum lagi keterbatasan jaringan internet yang kerap menghambat proses pembelajaran berbasis teknologi.

Namun, keterbatasan tidak pernah dijadikan alasan untuk berhenti bergerak. Tim Indonesia Mengajar memilih untuk hadir langsung di lapangan. Fasilitator ditempatkan di setiap sekolah dampingan agar pendampingan terhadap siswa dan guru tetap berjalan optimal, meskipun harus dilakukan secara konvensional dan berbasis komunitas.

“Walaupun ada keterbatasan sinyal dan internet, kami tetap bergerak dan melakukan aksi di lapangan. Yang terpenting, semangat belajar anak-anak tidak boleh padam,” tegas Nisa.

PSI Teluk Bintuni Siap Konsolidasi Hadapi Pemilu 2029  

Program ini memiliki visi besar, meningkatkan mutu pendidikan, menekan angka putus sekolah, dan mendorong lebih banyak generasi muda untuk melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Lebih dari itu, Indonesia Mengajar ingin membuktikan bahwa anak-anak Papua memiliki potensi yang setara bahkan lebih, dan berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkarya.

“Kami ingin anak-anak Teluk Bintuni memiliki kesempatan lebih besar mengikuti berbagai kegiatan di luar Papua, baik melalui olimpiade maupun program pertukaran pelajar,” tambahnya.

Semangat ini juga diwakili oleh sosok Muhammad Iqbal Refideso, salah seorang fasilitator yang menangani program pendidikan nonformal di Rumah Pintar. Terinspirasi oleh ibunya yang merupakan guru dan penggerak literasi, Iqbal mencurahkan tenaga dan pikirannya agar fasilitas belajar yang ada—mulai dari dukungan koneksi Starlink, koleksi buku, alat peraga pembelajaran, hingga pelatihan komputer—dapat dimanfaatkan secara maksimal.

“Kami ingin lebih banyak melibatkan anak asli Papua dari tujuh suku di Teluk Bintuni dalam berbagai program dan lomba. Saya yakin anak-anak Bintuni memiliki potensi luar biasa, hanya butuh kesempatan dan pendampingan yang tepat,” ujarnya penuh keyakinan.

Iqbal juga berharap perhatian lebih dari pemerintah daerah, khususnya terhadap Rumah Pintar Babo yang saat ini beroperasi di atas aset daerah namun belum mendapatkan dukungan operasional khusus.

Peringatan Hardiknas 2026, Anggota DPRK Roy Masewi Ajak Seluruh Elemen Masyarakat Jaga Kamtibmas  

Tak hanya prestasi akademik, program ini juga mendorong kepedulian lingkungan. Saat ini, dua sekolah binaan tengah dipersiapkan untuk meraih predikat Sekolah Adiwiyata. Sebuah kebanggaan lain datang dari tiga siswa SMA Negeri Saingga yang akan mengikuti program pertukaran pelajar selama tiga bulan di Salatiga, Jawa Tengah.

Dan puncak dari rangkaian inspirasi ini adalah keberhasilan Iqbal sendiri. Ia terpilih sebagai perwakilan pemuda dari Papua untuk mengikuti program Advanced Master in Strategy and International Security (AMS) di Jenewa, Swiss, pada Agustus mendatang. Sebuah bukti nyata bahwa perjuangan di tanah Papua mampu melambungkan nama daerah hingga ke panggung dunia.

Kisah ini menjadi pengingat bahwa di mana pun tempatnya, selama ada kemauan, dukungan, dan kerja sama, anak bangsa akan terus menorehkan prestasi yang membanggakan. Teluk Bintuni dan Fakfak telah membuktikannya. (Wn).

Comment

Leave a Reply