Jakarta, IndikatorNews.co.id – Setiap tanggal 3 Mei, dunia memperingati Hari Kebebasan Pers Dunia. Momen ini bukan sekadar peringatan, melainkan refleksi mendalam tentang peran, tantangan, dan tanggung jawab pers sebagai pilar utama demokrasi dan pembangunan. Hal itu disampaikan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Dr. Teguh Santosa, dalam peringatan hari bersejarah tersebut.
Ditetapkan melalui Resolusi Majelis Umum PBB Nomor 48/432 tahun 1993, peringatan ini berawal dari Deklarasi Windhoek tahun 1991. Dokumen tersebut lahir dari keresahan para jurnalis Afrika yang menghadapi sensor, intimidasi, dan pembungkaman suara. Inti pesannya jelas: kebebasan pers adalah syarat mutlak bagi tegaknya demokrasi dan tercapainya kemajuan bangsa.
Di Indonesia, jejak perjalanan pers jauh lebih panjang. Sejarahnya dimulai sejak terbitnya Bataviasche Nouvelles pada 1744 di masa penjajahan. Namun, pers benar-benar menemukan jati dirinya sebagai alat perjuangan ketika Medan Prijaji milik Tirto Adhi Soerjo hadir pada 1907. Bersama surat kabar lain seperti Oetoesan Hindia dan Soeara Oemoem, pers menjadi ruang pendidikan politik dan senjata ideologis melawan kebodohan serta penindasan, seperti yang digambarkan dengan apik oleh Pramoedya Ananta Toer dalam novel Rumah Kaca.
Setelah kemerdekaan, pers Indonesia mengalami pasang surut. Jika di era Orde Baru ruang geraknya dibatasi melalui Sistem Izin Usaha Penerbitan Pers (SIUPP), maka reformasi 1998 membuka babak baru. Lahirnya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers mencabut segala bentuk sensor dan menempatkan pers sebagai pilar demokrasi yang wajib dihormati.
Kini, di era transformasi digital, wajah pers berubah drastis. Internet dan media sosial mematahkan monopoli penyebaran informasi; siapa saja bisa menjadi produsen konten hanya dengan gawai di tangan. Perubahan ini membawa dampak ganda: di satu sisi informasi menjadi lebih cepat dan merata, namun di sisi lain banjir disinformasi, konten sensasional, dan jurnalisme instan merusak kualitas informasi yang diterima publik.
“Berita berkualitas sering kali kalah cepat bersaing dengan konten yang dirancang hanya untuk menarik perhatian sesaat. Ditambah lagi dengan melemahnya ekonomi media karena pendapatan iklan beralih ke platform global, tantangan ini nyata dihadapi insan pers,” ujar Teguh.
Menurutnya, di tengah situasi tersebut, prinsip dasar yang disampaikan wartawan legendaris Joseph Pulitzer tetap relevan. Pulitzer pernah menegaskan bahwa pers yang buruk akan melahirkan masyarakat yang buruk pula, sebaliknya pers yang berpegang teguh pada idealisme akan memperkuat fondasi negara.
“Masa depan bangsa ada di tangan kita. Pers tidak hanya bertugas menyuarakan aspirasi, tetapi juga membentuk cara pandang dan kompas moral masyarakat. Kita harus menjadi suluh yang menerangi ruang gelap kekuasaan, korupsi, dan ketidakadilan, sekaligus menjadi lokomotif yang menggerakkan pembangunan di bidang pendidikan, ekonomi, lingkungan, dan kedaulatan bangsa,” tegasnya.
Untuk menjalankan peran mulia itu, Teguh menekankan bahwa kebebasan harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab. Kebebasan pers bukan lisensi bertindak semaunya, melainkan amanah yang harus dijaga dengan memegang teguh Kode Etik Jurnalistik.
Ia juga mengakui banyak media arus utama yang terpaksa gulung tikar dan banyak wartawan yang kehilangan pekerjaan. Namun, hal ini bukan alasan untuk berhenti berinovasi. Insan pers dituntut cerdas memanfaatkan teknologi seperti jurnalisme data, cerita multimedia, hingga kecerdasan buatan, tanpa pernah meninggalkan nurani dan kejujuran.
“Kolaborasi dengan pemerintah dan masyarakat juga menjadi kunci. Hubungan itu harus dibangun atas dasar saling menghormati: pemerintah membuka akses informasi, pers menjalankan fungsi kontrol secara objektif,” tambahnya, merujuk pada pemikiran Walter Lippmann yang menyatakan bahwa pers membentuk gambaran dunia di benak masyarakat. Jika gambaran itu jelas, maka langkah bangsa pun akan pasti.
Di momen peringatan ini, Teguh mengajak seluruh insan pers untuk memperbarui komitmen: menjaga kebebasan, merawat etika, dan memperkuat profesionalisme.
“Semoga pers Indonesia terus menjadi suluh yang tidak pernah padam dan lokomotif yang tidak pernah berhenti bergerak maju. Dengan nilai yang kuat dan kecerdasan memanfaatkan zaman, bangsa ini akan mampu menghadapi segala tantangan dengan kepala tegak,” pungkasnya. (Wn).






Comment