Daerah
Home / Daerah / Sastrawan Rudi Fofid Persembahkan Puisi Spesial Untuk Bintuni pada Momen Pelantikan PWI 2026-2029

Sastrawan Rudi Fofid Persembahkan Puisi Spesial Untuk Bintuni pada Momen Pelantikan PWI 2026-2029

Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id – Tokoh pers dan sastrawan senior Indonesia Timur, Rudi Fofid, melahirkan karya puisi istimewa bertajuk “Untuk Mama Bintuni”. Karya ini secara khusus diciptakan untuk dibacakan oleh Siswi kelas 2 SMP Harmoni School, Starla Kanem Manibuy dalam pembukaan acara Pelantikan Pengurus, Konferensi Kerja, serta Orientasi Keanggotaan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Teluk Bintuni periode 2026–2029, di gedung Sasana Karya SP 3 Manimeri. Selasa (19/5/2026).

Diminta langsung oleh panitia penyelenggara, Rudi menyajikan goresan sastra yang sarat akan rasa cinta, kebanggaan identitas, serta semangat juang bagi tanah Papua, khususnya wilayah Teluk Bintuni. Lewat diksi yang kuat dan puitis, jurnalis yang kini menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi & Redaktur Senior Harian Suara Maluku ini menggambarkan karakter masyarakat setempat yang tangguh, jujur, dan memiliki harga diri yang tinggi.

Dalam puisinya, Rudi Fofid membuka dengan personifikasi masyarakat Bintuni sebagai sosok yang tajam dan tegas, namun sekaligus lembut dan perasa. Ia menegaskan bahwa penilaian luar sering kali keliru, sebagaimana tertuang dalam bait:

“Sa hitam, kata dunia
Dunia tidak bisa lihat
Sa pu hati lebih putih dari salju

Sa keriting, kata dunia
Dunia tidak bisa lihat
Sa pu jiwa lebih lurus dari batang pinang”

Sinergi UNIMUTU dan Pemda Teluk Bintuni: Merajut Asa Mewujudkan Kota Pendidikan

Sebagai jurnalis yang juga dikenal sebagai Duta Baca Indonesia periode 2021–2025, Rudi menyematkan filosofi tugas pers di dalam karyanya. Ia menggambarkan tulisan sebagai senjata, saksi sejarah, serta sarana untuk menjaga kebenaran dan menceritakan kisah tanah leluhur.

“Kalo ko kasih sa satu lembar kertas paleng putih
Sa tulis sejarah tanah ibu
Pake tinta air mata”

Lebih jauh, puisi ini juga memancarkan optimisme dan harapan besar bagi masa depan Bintuni. Rudi menuliskan kerinduannya melihat wilayah tersebut damai, sejahtera, dan penuh kebahagiaan bagi masyarakat setempat.

Ia pun menegaskan komitmen untuk terus berdiri teguh meski menghadapi berbagai cobaan, sekuat akar pohon pinang dan batang sagu yang menjadi ikon di wilayah Kabupaten Teluk Bintuni.

Penutup puisi ini menyiratkan pesan mendalam tentang perlunya menjaga kedamaian. Sebagai anak dari “Mama Bintuni”, Rudi berpesan agar tidak ada lagi tetesan darah atau air mata yang membasahi tanah ibu Pertiwi.

Harkitnas ke-118, Bupati Yohanis Manibuy Usung Semangat Kebangkitan Digital

Berikut adalah teks lengkap puisi “Untuk Mama Bintuni” karya Rudi Fofid:

UNTUK MAMA BINTUNI

Sa pace
Lelaki paleng tajam di Teluk Bintuni
Tatap sa pu mata, mata Bintuni

Sa mace
Perempuan paling pedis di Teluk Bintuni
Tatap sa pu mata, mata Bintuni

Sa hitam, kata dunia
Dunia tidak bisa lihat
Sa pu hati lebih putih dari salju

Resmi Dilantik, Pengurus PWI Teluk Bintuni Siap Bersinergi Wujudkan Daerah Sejahtera dan Serasi  

Sa keriting, kata dunia
Dunia tidak bisa lihat
Sa pu jiwa lebih lurus dari batang pinang

Sa pu mata bulat
Sa bisa liat tembus badan gunung
Sa bisa liat tembus air laut

Sa pu mata, mata dewa-dewi
Kalo ko berani tatap sa pu mata
Ko pu mata meleleh jatuh di pipi

Kalo ada malam paleng malam
Tar ada bulan deng bintang manyala
Sa bisa bakar malam

Sa bisa jadi bintang-bintang
Sa bisa jadi paleng kejora
Sa bisa bikin ko gementar

Kalo ko kasih sa satu lembar kertas paleng putih
Sa tulis sejarah tanah ibu
Pake tinta air mata

Kalo langit tabakar, sa tulis
Kalo langit longsor, sa tulis
Kalo awan-awan bubar, sa tulis

Sa punya banyak rindu
Rindu-rindu itu, warna putih
Membungkus cinta warna merah

Sa rindu liat semua jalan adalah jalan lurus
Sa rindu liat semua laut adalah laut kaca
Sa rindu liat semua senyum anak bintuni
Adalah gelombang paling panjang di bumi

Sa pace
Sa mace
Sa pu bola mata
Mata bintuni

Sa pace
Sa mace
Sa tidak takut peluru
Sebab sa ini peluru tajam

Kalo ko tembak sa sampe sa mati
Sa pu darah bikin basah tanah Papua
Jadi pupuk, bikin subur perlawanan

Sa lahir di bawah pohon pinang
Sa menulis untuk tanah pinang
Supaya matahari tidak tenggelam di tanah pinang

Kalo ada gempa bumi dan tsunami mengamuk
Sa tetap berdiri peluk batang sagu
Meski duri sagu bisa bikin luka

Sa pace
Lelaki paleng tajam di Teluk Bintuni
Tatap sa pu mata, mata Bintuni

Sa mace
Perempuan paling pedis di Teluk Bintuni
Tatap sa pu mata, mata Bintuni

Sa ini anak mama: Mama Bintuni
Sa tidak mau liat satu butir darah
Meleleh di pipi Mama Bintuni

Profil Penulis

Rudi Fofid lahir di Langgur, Maluku. Ia adalah seorang jurnalis, penulis, dan pendidik. Lulusan SMA Xaverius Ambon dan Universitas Pattimura ini telah berkarier di dunia pers sejak masa sekolah dan kuliah. Namanya dikenal luas setelah berkiprah di berbagai media nasional maupun lokal, seperti UCAN Hongkong, Suara Pembaruan, Tabloid Tabaos, dan Harian Patroli. Saat ini, ia menjabat sebagai Wakil Pemimpin Redaksi & Redaktur Senior di Harian Suara Maluku.

Selain aktivitas jurnalistik, Rudi aktif melatih jurnalis muda, mendirikan komunitas sastra, serta terpilih sebagai Duta Baca Indonesia 2021–2025 oleh Perpustakaan Nasional RI. Ia dikenal sebagai sosok yang dihormati dan menjadi teladan bagi insan pers di wilayah Indonesia Timur. (Wn).

Comment

Leave a Reply