Fakfak/Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id – Sejarah masuknya agama Islam di Tanah Papua bukanlah peristiwa tunggal yang terjadi dalam sekejap, melainkan proses panjang berlapis yang merambat lewat jalur laut perdagangan, menumbuhkan nilai persaudaraan, dan penghormatan terhadap kearifan lokal.
Hal ini ditegaskan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Teluk Bintuni, Ustad Rahman Urbun, saat mengulas hasil Seminar Nasional Masuknya Agama Islam di Tanah Papua yang digelar di Fakfak pada Januari 2025.
Menurut Ustad Rahman Urbun penulisan sejarah di tanah Papua memiliki tantangan tersendiri. Sebagian besar ingatan masa lalu masyarakat diwariskan lewat tradisi lisan dalam menyimpan silsilah, nama tokoh, tempat, dan hubungan kekerabatan yang tak selalu tercatat dalam arsip tertulis.
“Namun tradisi lisan itu harus kita telusuri dengan pendekatan ilmiah, penelusuran sumber, dan dialog dengan berbagai bukti yang ada. Sejarah Islam di Papua adalah bukti penyebaran yang damai, tak pernah datang dengan kekerasan, melainkan berjalan beriringan dengan budaya setempat,” ujarnya.
Jejak awal penyebaran Islam di wilayah barat Papua tercatat pada 8 Agustus 1360 M silam, ketika mubaligh Syekh Abdul Ghofar tiba dan berdakwah di Fakfak. Wilayah ini sejak lama menjadi titik strategis jalur perdagangan rempah dunia, menghubungkan Maluku, Banda, Aceh, hingga ke Eropa. Lewat jalur pelayaran inilah nilai agama, bahasa, dan budaya bergerak bersama barang dagangan dan ikatan kekerabatan.
Penyebaran Islam berjalan bertahap dan tak seragam di setiap wilayah. Mulai dari pusat-pusat Islam di Nusantara barat, dakwah merambat ke arah timur termasuk wilayah Teluk Bintuni yang menjadi bagian tak terpisahkan dari jejak peradaban tersebut.
Islam hadir lewat peran dai, pedagang, pelaut, tokoh adat, dan keluarga-keluarga Muslim yang menjalin hubungan sosial, perkawinan, dan pendidikan.
MUI Provinsi Papua Barat, lanjut Rahman Urbun, berperan penting dalam merangkai kembali potongan sejarah ini. Seminar Nasional 2025 menjadi kelanjutan dari kajian serupa tahun 2006, yang mempertemukan akademisi, tokoh adat, dan ulama untuk menyatukan pengetahuan akademis dengan ingatan masyarakat.
“Penetapan tahun 1360 bukanlah penutup kajian, melainkan pijakan untuk melestarikan situs, menggali tradisi lisan, dan memperkuat persaudaraan. Sejarah Islam di Teluk Bintuni dan seluruh Papua mengajarkan agama tak menghapus adat, melainkan memperkuat jati diri bangsa,” tegasnya. Pada Minggu (9/8/2026) di masjid Al-Munawar Teluk Bintuni.
Peringatan masuknya Islam di Tanah Papua bukan sekadar mengenang masa lalu, melainkan momentum merawat warisan leluhur, membangun literasi sejarah, dan meneguhkan komitmen menjaga kedamaian. Dari Fakfak hingga Teluk Bintuni, kita belajar bahwa agama, adat, dan kebangsaan dapat berjalan beriringan dalam semangat saling menghormati.
Ketua MUI Teluk Bintuni, Ustad Rahman Urbun saat mengulas jejak sejarah masuknya Islam di Tanah Papua. (Dok. MUI Teluk Bintuni)






Comment