TELUK BINTUNI, IndikatorNews.co.id – Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LMA) Suku Besar Sebyar, Nuh Inai, secara tegas menyuarakan hak masyarakat adat atas pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya alam khususnya minyak dan gas bumi (migas) di wilayahnya. Seruan itu disampaikan dengan semangat persatuan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang dijaga sebagai harga mati. Kamis (13/8/2026).
“Jangan rusak makna kemerdekaan dan cita-cita proklamasi hanya karena ego penguasaan sumber daya alam,” tegas Nuh Inai, mengingatkan bahwa kemerdekaan NKRI adalah simbol perjuangan yang harus dirasakan keadilannya oleh seluruh anak bangsa, termasuk masyarakat adat di Tanah Papua.
Masyarakat adat Suku Besar Sebyar menegaskan keinginan untuk mengelola dan memanfaatkan kekayaan migas di wilayah mereka sendiri. “Kami ingin menjual dan memanfaatkan migas kami, apa masalahmu, mengapa kau melarang kami?” ungkapnya, menyampaikan keresahan yang mendalam atas hambatan yang dialami dalam mengelola kekayaan alam yang tumbuh di tanah leluhur.
Dalam seruan tersebut, masyarakat adat menuntut agar komitmen penyediaan alokasi gas sebesar 20 MMSCFD untuk Suku Besar Sebyar segera direalisasikan. Angka itu dianggap sebagai hak yang wajib dipenuhi sebagai bentuk pengakuan atas hak ulayat dan kesejahteraan masyarakat adat setempat.
Nuh Inai juga memperingatkan agar sejarah buruk bagi negeri Papua tidak dibiarkan berulang. “Jangan tinggalkan sejarah buruk bagi negeri Papua, maka anak cucu akan menertawakan kebodohanmu,” ujarnya, seraya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bangkit bersatu.
Pihaknya menegaskan perjuangan ini bukan untuk merusak, melainkan untuk memperjuangkan: hak ulayat dan hak masyarakat adat, pengelolaan migas secara adil, transparan dan berkeadilan, serta manfaat yang sebesar-besarnya bagi masyarakat dan bangsa.
“Migas milik kita, untuk kemaslahatan umat manusia!” seru Nuh Inai. “Melawan sekarang… atau hancur martabat dan masa depan Suku Besar Sebyar!” ajaknya, mengajak seluruh elemen untuk bersatu demi Papua yang bermartabat dan Indonesia yang berkeadilan. (Wn).






Comment