Manokwari, IndikatorNews.co.id – Muhammadiyah ditegaskan sebagai gerakan Islam yang terbuka, inklusif, dan senantiasa bergerak maju, hadir bagi seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan asal-usul, suku, maupun latar belakang sosial ekonomi. Hal ini disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 2022–2027 sekaligus Anggota Dewan Pendidikan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi RI, Prof. Dr. H. Irwan Akib, M.Pd., dalam kuliah umum dan pembinaan materi Al-Islam Kemuhammadiyahan di Manokwari. Selasa (26/5/2026).
Semangat inklusivitas tersebut telah diwujudkan secara nyata sejak awal berdirinya organisasi melalui pendirian sekolah, panti asuhan, hingga rumah sakit. Seluruh amal usaha ini berlandaskan prinsip pelayanan kemanusiaan yang universal, di mana manfaat disebarkan tanpa sekat sejalan dengan misi dakwah menyejahterakan umat.
Tradisi belajar disebut sebagai fondasi utama kemajuan Muhammadiyah hingga kini. Sebagai contoh, Kiai Suja mendirikan rumah sakit setelah mendalami sistem kesehatan yang dikembangkan bangsa Belanda. Dari keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan itu lahir semangat husnul wathan, yakni rasa cinta dan bakti kepada tanah air yang tumbuh beriringan dengan kemauan menyerap kemajuan dan pengalaman bangsa lain.
Nilai-nilai tersebut kini terus dikembangkan di wilayah Indonesia Timur. Hingga saat ini, terdapat 164 Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang tersebar di berbagai daerah, termasuk rencana pendirian Universitas Muhammadiyah Merauke—bukti nyata perluasan akses pendidikan berkualitas hingga ke wilayah paling timur nusantara.
Menatap visi Indonesia Emas 2045, Irwan Akib menempatkan mahasiswa sebagai agen perubahan yang sangat strategis. Mahasiswa Muhammadiyah yang berasal dari berbagai penjuru negeri memikul tanggung jawab moral besar untuk ikut membangun Manokwari dan kawasan timur Indonesia. Kontribusi diharapkan disumbangkan melalui penguasaan ilmu, penciptaan inovasi, serta pengabdian sosial yang menjawab kebutuhan masyarakat. Kunci utama menghadapi masa depan adalah kemauan terus belajar dan menguasai keahlian yang relevan dengan perkembangan zaman.
Di tengah arus teknologi dan modernisasi yang pesat, generasi muda diingatkan agar tidak memutus hubungan dengan akar budaya. Ia mengemukakan semboyan “Melangkah dengan garis tanah yang sama”, yang bermakna kemajuan dan modernitas harus berjalan selaras dengan identitas dan kearifan lokal, bukan malah menghilangkannya.
Khusus bagi mahasiswa yang tinggal atau menuntut ilmu di Tanah Papua, disematkan peran mulia sebagai pelindung hijau hutan belantara, dengan tanggung jawab khusus menjaga kelestarian alam serta warisan nilai-nilai leluhur.
Irwan menutup pemaparannya dengan pesan damai: segala perbedaan bukanlah untuk dipertentangkan, melainkan dirayakan dalam bingkai persaudaraan. Semangat saling menghargai dan menghormati menjadi kunci mewujudkan masa depan Indonesia yang inklusif, berkeadaban, dan sejahtera bersama. (Wn).






Comment