Teluk Bintuni, IndikatorNews.co.id — Di sepanjang tepian air sungai payau yang tenang, rimbunan pohon bakau berdiri kokoh menyambut angin laut. Akarnya menjalar menembus lumpur, seolah memeluk bumi agar tak terhanyut. Namun di balik keindahan alam yang memukau itu, tersembunyi denyut yang dapat menggigilkan hati.
Sebelumnya awal tahun 2026 angka tercatat jelas 1.147 jiwa di wilayah ini telah terjangkit HIV dan AIDS. Bukan sekadar angka di atas kertas, setiap satuan itu adalah nyawa, harapan, dan cerita yang perlahan tergerus.
Bagaikan racun yang merayap diam-diam di sela-sela akar bakau, penyakit ini masuk tanpa suara. Tak terlihat di permukaan, namun perlahan merusak kekebalan tubuh hingga tak sanggup menahan serangan apa pun. Ia tak memandang usia, tak membedakan kedudukan menyusup hingga ke dalam ruang keluarga, mematikan harapan, dan meninggalkan kesedihan yang menyayat.
“Virus yang beretika, kenapa begitu, karena kalau kita sendiri tidak dapat menerapkan etika pola hidup dan seks sehat, maka ancaman akan mengintai,” ungkap Pemerhati HIV Aids Everdina Yuliana Wanggai.
Sementara itu, PLT. Kepala Dinas Kesehatan Teluk Bintuni, Yohanis R Manobi disela kegiatan Koordinasi, Sosialisasi dan Evaluasi Pencegahan Pengendalian Penyakit yang diselenggarakan di gedung Women Center, Rabu (17/6/2026), menyebutkan hingga pada bulan Mei 2026 angka HIV Aids mencapai 1.350 kasus.
Yohanis R. Manobi juga mengajak kepada seluruh warga masyarakat untuk jaga pola hidup sehat, dan seks yang sehat. Dinas Kesehatan Teluk Bintuni akan sigap berkolaborasi oleh semua stegholder untuk meningkatkan pelayanan kesehatan dan melakukan pemeriksaan dini.
Keindahan Teluk yang senantiasa menyuguhkan ketenangan kini terbayang bayang kelam. Namun ketakutan tak boleh menjadi penutup mata. Angka ini menjadi panggilan nyata untuk bangkit dan memahami:
– Penularan terjadi lewat hubungan tak aman, darah yang terkontaminasi, atau dari ibu ke bayi
– Bukan menular lewat sentuhan biasa, berbagi makanan, atau udara di antara rimbunan bakau
– Pemeriksaan dini menjadi jembatan harapan; pengobatan rutin bisa menahan laju penyakit
– Sikap menyingkirkan penderita justru memperlebar celah bahaya
Seperti hutan bakau yang saling menguatkan akarnya agar tak runtuh, masyarakat Teluk Bintuni pun harus bersatu. Pengetahuan adalah benteng terkuat. Jangan biarkan ketidaktahuan menjadi jalan masuk bahaya yang lebih luas.
Di bawah langit Teluk yang masih indah, kesadaran adalah cahaya. Agar tak ada lagi nyawa yang terhitung sebagai angka baru agar rimbunan bakau tetap menyimpan kedamaian, bukan kesedihan. (Wn).





Comment